Soal Anak Hilang Paksa, Indonesia Masih Pasif, Rekomendasi KKP Belum Diimplementasi

Dubes Indonesia di Timor-Leste mengatakan pemerintah Indonesia masih terus mencari anak-anak yang hilang karena konflik masa lalu dan menginginkan anak-anak tersebut bertemu keluarga mereka. Sementara itu, AJAR, sebuah lembaga non-pemerintah yang aktif melakukan pekerjaan pencarian anak-anak yang hilang meminta pemerintah Indonesia untuk lebih konsisten mengimplementasikan rekomendasi Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP).

Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang di lakukan oleh tentara Indonesia selama 24 tahun di Timor-Leste dari tahun 1975-1999 memunculkan banyak masalah yang perlu di selesaikan kedua Negara. Salah satu kasus yang di tuntut oleh rakyat Timor-Leste dan direkomendasikan dalam laporan CAVR dan laporan KKP adalah pemulangan anak-anak yang hilang secara paksa, yang pernah di bawa tentara Indonesia.

TAFARA.TL mewawancarai Duta Besar Indonesia di Timor-Leste, Sahat Sitorus tentang program pencarian anak yang hilang sebagai tuntutan dari keluarga di Timor-Leste yang meminta agar pemerintah Indonesia mengembalikan anak dan saudara mereka yang dulu di bawa tentara Indonesia selama penjajahan ke Indonesia.

Duta Besar Indonesia tersebut menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Timor-Leste untuk program pencarian anak yang hilang dan masih terus berjalan.

“Membawa anak-anak yang dulu di bawa, untuk bertemu keluarga mereka disini. Nanti tanggal 11 Desember ada sekitar 15 anak yang hilang di bawa kesini. Itu setiap tahun jalan terus, kita cari orangnya, kita bekerja sama sangat dekat. Sekitar tanggal 11 Desember ada anak-anak dari Sulawesi akan datang. Kita juga tidak mau mereka tidak menemukan saudaranya. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan AJAR”, kata Sahat Sitorus di Gedung Parlemen Timor-Leste.

Mengenai kasus tentang anak yang hilang, TAFARA.TL mengkonfirmasi dengan Direktur Asia Justice and Right (AJAR) di Timor-Leste, Jose Luis Oliveira, mengenai kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan AJAR untuk kasus pencarian anak yang hilang.

Jose Luis Oliveira menjelaskan bahwa untuk mencari Anak yang hilang, AJAR bekerja sendiri. Sedangkan kegiatan reuni, setelah dipersiapkan segalanya, memang pemerintah Indonesia, terutama dari Departemen Luar Negeri (Deplu) ikut mendukung dalam hal biaya. Tapi untuk tahun ini pemerintah Indonesia tidak ada dana.

Jose Luis juga menambahkan bahwa untuk kegiatan reuni kali ini pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Sosial memberikan dana sebesar $16.000, dan dari AJAR sebesar $6.000 dan NGO lain dalam bentuk In kind (dalam bentuk barang. Red)

“Kegiatan reuni tahun lalu, pemerintah Indonesia yang membayar tiket peserta Reuni dari beberapa Kota asal di Indonesia ke Bali [pulang pergi]. Sedangkan dari Bali ke Dili ditanggung pemerintah Timor-Leste, sedangkan tahun ini pemerintah Indonesia tidak mengalokasikan dana”, kata Jose Luis

Menurut informasi dari Duta Besar Indonesia bahwa tanggal 11 Desember 2018, 15 anak akan di bawah ke Timor-Leste untuk bertemu dengan keluarga mereka, dari AJAR Jose Luis mengatakan, “nggak betul tanggalnya bukan tanggal 11 tapi tanggal 3 Desember”.

Kepada TAFARA.TL Direktur AJAR mengatakan bahwa Indonesia harus konsisten terhadap kesepakatan dalam laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan [KKP], terutama secara jujur berusaha memenuhi rekomendasinya yaitu bersama pemerintah Timor-Leste membentuk Komisi Untuk Mencari Orang Hilang, dan bukan secara pasif mendukung inisiatif NGO baik di Timor-Leste maupun di Indonesia.

AJAR sudah berusaha menemukan sekitar 100 anak, sedangkan yang sudah di fasilitasi reuni sekitar 50 lebih selama lima tahun kerja.

Menurut laporan CAVR, sedikitnya 4.000 anak Timor Leste telah dipindahpaksa ke Indonesia selama kurun waktu 1975 hingga 1999.

Komisi Kebenaran dan Persahabatan merekomendasikan agar pemerintah Indonesia dan Timor-Leste bekerja sama mengumpulkan informasi/membentuk komisi mengenai orang-orang hilang, serta bekerja sama dalam pengumpulan data dan menyediakan informasi. Komisi ini juga akan ditugaskan untuk mengidentifikasi semua anak-anak Timor-Leste yang terpisah dari orang tua mereka dan untuk memberi tahu keluarga-keluarga mereka mengenai keberadaan anak-anak tersebut. * [ Zevonia Vieira | Editor: Ato ‘Lekinawa’ Costa | TAFARA.TL | 29.11.2018 ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.