Wednesday , June 19 2019
Home / Sosial & Politika / Soal Jasad Nicolau Lobato, Dubes Indonesia Mohon Diberi Waktu
Saudozo Prezidente Nicolau Lobato. [Foto; Copyright arkivu nasional | 28.11.2018]

Soal Jasad Nicolau Lobato, Dubes Indonesia Mohon Diberi Waktu

Hari ini Timor-Leste memperingati ulang tahun kemerdekaanya yang ke-43. Banya jasad para pahlawan yang rela mati membela tanah air Timor-Leste belum ditemukan, termasuk Presiden Nicolau Lobato. Pemerintah Indonesia, lewat Kedutaan Besarnya di Timor-Leste masih belum bisa memberikan jawaban pasti soal keberadaan jasad Presiden Nicolau Lobato.

Hingga saat ini rakyat Timor-Leste masih menuntut kepada pemerintah Indonesia agar bisa menyerahkan jasad pahlawan Nicolau Lobato kepada pemerintah Timor-Leste, tetapi hingga sekarang tuntutan tersebut belum terjawab oleh pemerintah Indonesia.

TAFARA.TL menanyakan tentang tuntutan dari rakyak Timor-Leste kepada Duta Besar Indonesia di Timor-Leste, tentang kelanjutan pencarian jasad Nicolau Lobato? Duta Besar Indonesia di Timor-Leste, Sahat Sitorus menjelaskan bahwa Indonesia sama Timor-Leste memang memiliki sejarah masa lalu yang kita tutup, forgive but not forgotten [saling memaafkan tapi tidak harus di lupakan. red].

“Mana yang terbaik dan yang tersisa kita selesaikan, antara lain tuntutan dari saudara-saudara di Timor-Leste, tentu saya sebagai Duta Besar sudah menyuarakan kepada pemerintah di pusat, dan begitupun sebelumnya. Jakarta sebenarnya sudah berusaha mencari informasi dari sumber-sumber yang mengetahui pada waktu itu, tahun 1975. Tapi sekarang sulit mencari karena banyak yang sudah meninggal, ada yang sakit”, kata Sahat Sitorus saat menghadiri acara peringatan Proklamasi Hari Kemerdekaan Timor-Leste yang ke-43.

Sahat Sitorus menambahkan bahwa jasad Presiden Nicolau Lobato pemerintah Indonesia sedang berusaha untuk dicari.

“Jadi kita bukan melupakan, tapi berusaha mencari informasi dari bekas tentara. Apakah betul dulu di bawa ke Indonesia? Apakah betul di kubur disini? Mohon di beri waktu lagi. Saya bukannya berhenti dan pemerintah Indonesia juga tidak berhenti. Kita tetap berdoa mudah-mudahan ketemu. Sudah satu tahun lebih saya bertanya kepada pimpinan di Indonesia seperti Pak Susilo Bambang Yudhoyono, para jenderal, Pak Gatot, dan jenderal yang lain. Mungkin para jenderal juga tidak tahu persis, dan saya coba cari para mantan tentara yang terlibat dulu, jadi beri waktu. Kita tentu tidak bisa janji bulan depan atau tahun depan, tapi kita tetap berusaha mencari”, Sitorus menambahkan.

Dalam Laporan CAVR, juga disebut dalam laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan bahwa kedua negara, Indonesia dan Timor-Leste harus melakukan usaha untuk membantu keluarga korban guna menguburkan dengan layak anggota keluarga mereka yang mati dalam konflik yang terjadi pada tahun 1974 – 1999. Khusunya dalam laporan CAVR disebutkan bahwa, “Pihak keluarga korban dibantu untuk menemukan dan menguburkan kembali jasad sanak-saudara dan orang-orang yang disayangi yang tewas selama konflik dan agar, bilamana sumberdaya memungkinkan, dilakukan penggalian kembali menurut standar-standar yang memadai, untuk memungkinkan identifikasi dan penetapan penyebab kematian.”


Nicolau Lobato adalah Perdana Menteri Timor-Leste pertama ketika memproklamasikan kemerdekaan pada 28 November 1975. Sang Pahlawan diduga tewas dalam sebuah baku tembak dengan militer Indonesia pada 1978. * [ Zevonia Vieira | Editor: Ato ‘Lekinawa’ Costa | TAFARA.TL | 28.11.2018 ]

About Zevonia Vieira

Zevonia Vieira, Chefe Redasaun TAFARA.TL, hamutuk ho Metodio Caetano Moniz & Fernando Antonio da Costa hari media online TAFARA.TL, iha Oe-cusse, Ambeno, dia 23 de Agosto de 2015.

Check Also

Lú Olo: Jornalista Mak Fahe Informasaun Importane no Promove Debates

“Jornalista sira tenke iha responsabilidade, Adelino Gomes hateten jornalista laos hatene hakerek nutisia deit, laos …

One comment

  1. KBRI brani loke ibun ona hanesan nee tenki aselera ona prosesu nee ho Sira atu hela lalais Ita nia Eroi sira nebe Ita seidauk hetan Isin-no-Ruin.
    Hanesan tuir notisia nee katak balun sei iha no iha maibe moras hele entaun buka meius lalais ona antes Sira nee moras todan ka mate.

    Obrigado

Leave a Reply to Silvano Branco Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *